Kamis, 18 Oktober 2012
Selasa, 19 Juni 2012
SOLUSI KECIL MELAWAN KETERTINGGALAN SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) : BAGIAN 2
Oleh
Gregorius Mosed Karhindra, ST
Berdasarkan
pengalaman saya ke desa Taen Terong, kecamatan Riung, kabupaten Ngada, provinsi
Nusa Tenggara Timur, Negara Kesatuan Republik Indonesia, bulan Mei 2012.
Melihat dan mengalami langsung hidup bersama masyarakat desa yang tidak
terlayani pasokan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara), pasokan air
bersih dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), jalan yang belum diaspal, dsb.
Ketika
berdiskusi dengan beberapa warga desa Taen Terong, saya mengetahui begitu
banyak solusi yang sudah dipikirkan untuk mengatasi keterbatasan, seperti
membangun saluran air ke setiap rumah, dsb. Tetapi begitu banyak solusi yang
tidak bisa dilakukan karena terbentur masalah dana.
Sampai
tahun 2012 dan entah sampai kapan, Indonesia masih dicengkeram korupsi. Jadi
jika bantuan dari para donatur untuk masyarakat pedesaan dan terpencil dalam
bentuk dana (uang tunai) atau dengan kata lain ‘roti 1 pan’ maka dalam
‘perjalanan’ menuju ‘sasaran’ tidaklah mengherankan jika ‘digigit’. Dan ketika
sampai ke masyarakat pedesaan dan terpencil sudah dalam bentuk ‘remah’ bahkan
tidak ada sama sekali.
Jika
memang harus dalam bentuk dana maka sebaiknya harus melalui orang kepercayaan
donatur.
Jika
tidak dalam bentuk dana maka baiklah para donatur membantu dengan membelikan
barang – barang, misalnya selang, pipa dan pompa air untuk membangun saluran
air dari mata air / sumur ke rumah warga.
Kebutuhan
yang paling mendesak adalah sarana jalan umum yang baik (sudah diaspal) agar memudahkan transportasi. Sehingga hasil
bumi bisa mudah dijual untuk bisa mendapatkan dana.
Untuk
membangun jalan, dibutuhkan dana yang besar > Rp. 100 juta. Tentulah ini
berat dilakukan.
Solusi
kecil lain yang paling mudah, yang saya tawarkan dalam kesempatan ini adalah
membangun perpustakaan sederhana. Perpustakaan sederhana yang berisikan buku –
buku sekalipun bekas pakai, yang bisa membuat masyarakat pedesaan dan terpencil
bisa mengetahui cara untuk mengembangkan diri dengan lebih baik.
Contohnya:
buku – buku pelajaran (Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, IPA, IPS,
Olahraga, Kesenian, dsb) untuk anak sekolah, buku – buku cara membangun
pembangkit listrik sederhana dengan teknologi energy terbarui (renewable
energy), buku – buku kesehatan, buku – buku cara beternak sapi / kerbau / kuda
/ ayam / ikan lele / kambing / domba, dst, buku – buku cara merawat mesin
traktor / perontok padi, dst, buku – buku pertanian, dan buku – buku
pengembangan diri lainnya.
LITTLE SOLUTION AGAINST THE MOST BACKWARDNESS OF EAST NUSA TENGGARA (NTT) : PART 2
By Gregorius Mosed Karhindra, ST
Based on my experience to the village Taen Terong, sub Riung, Ngada regency, East Nusa Tenggara province, Republic of Indonesia, in May 2012. See and experience life directly with villagers who are not served by electricity supply from PLN (Perusahaan Listrik Negara / State Electricity Company), the supply of clean water from PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum / Regional Water Company), have paved roads, etc.
When discussing with several villagers Taen Eggplant, I know so many solutions that have been devised to overcome the limitations, such as building a water channel to every house, and so on. But so many solutions that can not be done due to hit the fund.
Until 2012 and who knows how long, Indonesia is still gripped by corruption. So if assistance from donors for rural and remote communities in the form of money (cash) or in other words 'bread pan 1' then the 'journey' towards the 'target' is not surprising that 'bite'. And when it comes to rural and remote communities are in the form of 'crumbs' does not even exist at all.
If
you do have the funds then you should go through the trust donors.
If not in the form of grants, as well as from donors to help by buying items such as hoses, pipes and pumps water to a canal from the spring / well to the house residents.
The most urgent needs is a good means of public roads (already paved) to facilitate transport. So that the agriculture products could easily be sold to get funds.
To
build a road, requires substantial funds > Rp. 100 million. This must have
been hard to do.
Another small solution of the easiest, I offer this opportunity is to build a simple library. Simple library that contains books - even second-hand books, which can make rural and remote communities can find ways to develop themselves better.
Examples:
textbooks (Math, English, Indonesian, Science, Social, Sports, Arts, etc.) for students,
the books of to build simple power plants with renewable energy technologies
(renewable energy), medical books , the books of how to raise cattle / buffalo
/ horse / chicken / catfish / goat / sheep, etc., the books to take care of the
machine tractor / thresher rice, etc., the books of agriculture, and the other
of self-improvement books.
In conclusion, there are so many ways to share the love that could be done in advance to those who are blessed by God with an abundance of funds.
MY JOURNEY : THEY REALLY THERE AND FIGHT AGAINST IT
By Gregorius Mosed Karhindra, ST
Based on my experience to the village Taen Terong, sub Riung, Ngada regency, East Nusa Tenggara province, Republic of Indonesia, in May 2012. See and experience life directly with villagers who are not served by electricity supply from PLN (Perusahaan Listrik Negara / State Electricity Company), the supply of clean water from PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum / Regional Water Company), have paved roads, etc.
Living with villagers TaenTerong even if only for a week, I could also feel the weight of life's challenges everyday to be served the community.
In real life - the day, the villagers fought against it, such as:
The
absence of service from PLN (cheap power
source), making many villagers use oil lamps for lighting sources to activities
in the evening.
There really are able
to buy a generator set (genset) as a solution to overcome the absence of a
power source, but with limited funding, this solution only for a few hours. As
well as Solar Cell, but only for a few hours and little power.
Most of the villagers who live in poverty, using oil lamps as the main source of lighting. This means that they must fight against the dim light can damage the health of the senses of vision as well as the sense of breathing. If you do not believe, PROVE BY YOURSELF ...!
Most of the villagers who live in poverty, using oil lamps as the main source of lighting. This means that they must fight against the dim light can damage the health of the senses of vision as well as the sense of breathing. If you do not believe, PROVE BY YOURSELF ...!
The absence of service from PDAM (water source), makes the villagers rely on springs / wells that were located far away from home (can be> 100 m) for drinking and whatnot. With distance from water sources, meaning that required more effort and time to bring it home. For kids who are students who go to reach their dreams, this is a serious problem for time to study in order to understand the subject matter found in the school. Because the activity is carried out to draw water when the sun is illuminating the earth, meaning that the kids get ready to face an oil lamps in the evenings for study time.
The absence of good public roads (already paved). Until May 2012, the condition of dirt roads and rocky, making transportation of goods both crops and humans, it becomes very difficult to travel. Moreover, if during the rainy season.
Scarcity of adequate public transportation such as bemo, buses and trucks. If anything, just passing at certain hour or rented to transport agricultural products.
The damn accursed who deceived, who come either under the guise of an individual or NGO (Non Governmental Organization) is requesting data and money in order to receive assistance from the donator. Once the money and the data obtained, kept the damn accursed like lost in the earth. It is not surprising that the data and the poverty of the villagers, 'sold' by the damn accursed to cheat in order to get funds from donors.
Prospective
officials or local officials, which promises the empty hopes about these
infrastructure improvements, or to the welfare of society.
Far
from the General Hospital, pharmacy or medical personnel. On the positive side,
forcing residents to become a doctor for themselves or have an attitude of
surrender to God's great if you have severe pain, such as a poisonous snake
bite.
And so forth.
And so forth.
As a conclusion, they, the people who live with the limitations, are fighter. And also let their eyes (people living with limitations) to see the damn accursed who 'sell' their backwardness and poverty for the prosperities, without even the slightest share with them, experiencing plagues of God, like ALL TYPES OF CANCER, STROKE AND OTHER DEADLY DISEASES.
PERJALANANKU : MEREKA SUNGGUH DI SANA DAN BERJUANG MELAWAN ITU
Oleh Gregorius Mosed Karhindra, ST
Berdasarkan
pengalaman saya ke desa Taen Terong, kecamatan Riung, kabupaten Ngada, provinsi
Nusa Tenggara Timur, Negara Kesatuan Republik Indonesia, bulan Mei 2012.
Melihat dan mengalami langsung hidup bersama masyarakat desa yang tidak
terlayani pasokan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara), pasokan air
bersih dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), jalan yang belum diaspal, dsb.
Hidup
bersama masyarakat desa Taen Terong walaupun hanya untuk 1 minggu, saya bisa
turut merasakan beratnya tantangan hidup sehari – hari yang harus dijalani masyarakat.
Ketiadaan pelayanan dari PLN (sumber listrik yang murah), membuat masyarakat desa banyak yang menggunakan lampu minyak sebagai sumber penerangan untuk beraktifitas di malam hari.
Benar
ada yang mampu beli generator set (genset) sebagai solusi mengatasi ketiadaan
sumber listrik, tapi dengan dana yang terbatas, solusi ini hanya untuk beberapa
jam. Juga Solar Cell tapi sama hanya untuk beberapa jam dan dayanya kecil.
Sebagian besar
masyarakat desa yang hidup dalam kemiskinan, menggunakan lampu minyak sebagai
sumber penerangan utama. Artinya mereka harus berjuang melawan redupnya cahaya
yang bisa mengganggu kesehatan indera penglihatan sekaligus indera pernafasan. Jika
tidak percaya, BUKTIKAN SENDIRI...!!!Ketiadaan pelayanan dari PDAM (sumber air bersih), membuat masyarakat desa mengandalkan mata air / sumur yang jaraknya jauh dari rumah ( bisa > 100 m) untuk minum dan yang lainnya. Dengan jarak yang jauh dari sumber air, artinya diperlukan tenaga dan waktu yang lebih untuk membawanya ke rumah. Bagi anak – anak yang bersekolah untuk menggapai cita – citanya, ini adalah masalah serius untuk waktu belajarnya agar bisa memahami materi pelajaran yang didapatkan di sekolah. Karena kegiatan menimba air ini dilakukan saat matahari masih menerangi bumi, artinya anak – anak bersiap – siap menghadapi lampu minyak di malam hari untuk waktu belajarnya.
Ketiadaan jalan umum yang baik (sudah diaspal). Sampai Mei 2012, kondisi jalan tanah dan berbatu, membuat transportasi, baik barang hasil bumi dan manusia, menjadi susah sekali untuk melakukan perjalanan. Apalagi jika saat musim hujan.
Para jahanam terkutuk yang menipu, yang datang baik berkedok individu atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang meminta data dan uang agar bisa menerima bantuan dari para donatur. Setelah uang dan data didapat, terus para jahanam terkutuk itu seperti hilang ditelan bumi. Bukanlah hal yang mengherankan jika data – data dan kemiskinan dari penduduk desa, ‘dijual’ oleh para jahanam terkutuk itu untuk menipu supaya bisa mendapatkan dana dari para donator.
Para
calon pejabat atau pejabat daerah, yang menjanjikan harapan – harapan kosong
tentang perbaikan infrastruktur ini itu ataupun mensejahterakan masyarakat.
Jauh
dari Rumah Sakit Umum, apotik ataupun tenaga medis. Sisi positifnya, memaksa
warga untuk menjadi dokter bagi dirinya sendiri atau memiliki sikap pasrah
kepada Tuhan yang besar jika mengalami sakit berat, misalnya tergigit ular
berbisa.
Dan
lain sebagainya.
Rabu, 13 Juni 2012
PERJALANANKU : SEKARANG SAYA TAHU DAN SEHARUSNYA ANDA JUGA TAHU
Oleh Gregorius Mosed Karhindra, ST
Berdasarkan
pengalaman saya ke desa Taen Terong, kecamatan Riung, kabupaten Ngada, provinsi
Nusa Tenggara Timur, Negara Kesatuan Republik Indonesia, bulan Mei 2012.
Melihat dan mengalami langsung hidup bersama masyarakat desa yang tidak
terlayani pasokan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara), pasokan air
bersih dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), jalan yang belum diaspal, dsb.
Dalam
perjalanan saya kali ini, saya bertemu dengan banyak orang termasuk dengan
bapak Anselmus, seorang petani yang pikirannya dibuka oleh Tuhan untuk mengubah
mesin perontok padi miliknya yang telah rusak dikombinasikan dengan dinamo
(generator) menjadi alat untuk membangkitkan listrik, yang mampu
menyalakan beberapa lampu di rumahnya untuk menerangi dan membantu aktifitas keluarganya
di malam hari walaupun hanya untuk beberapa jam mengingat jumlah solar yang ada
sebagai bahan bakar.
Setelah
bertukar pikiran dengan bapak Anselmus, saya mengetahui kalau bapak Anselmus
yang hidup di daerah pedesaan dan terpencil yang tidak terlayani pasokan
listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara), jauh dari sumber informasi untuk
menunjang aktifitasnya (internet, buku panduan membangun pembangkit listrik,
dsb), jauh dari toko yang menjual alat listrik, dsb, bukanlah seorang seorang
sarjana ataupun pernah mengalami pendidikan tinggi di Universitas. Bapak
Anselmus sungguh hanyalah seorang petani yang kegiatan sehari – harinya
berhubungan dengan sawah dan ternak, yang melihat orang lain yang membuat alat
tersebut kemudian mencoba membuatnya sendiri dengan dana sendiri.
Dengan
penjelasan di atas, seperti memberitahukan kepada saya, anda dan semuanya,
bahwa semua manusia dianugerahi oleh Tuhan, potensi otak yang bisa berpikir dan
menemukan solusi atas permasalahan hidupnya layaknya orang yang mengalami
pendidikan tinggi, apapun jenjang pendidikan formalnya. Dengan kenyataan ini,
baiklah kita menganggap orang – orang yang menggangap orang – orang yang hidup
di pedesaan dan daerah terpencil adalah orang – orang bodoh yang tidak tahu apa
– apa mengenai cara bagi kemajuan hidup mereka, kemudian ‘menjual’ sebagai
alasan untuk untuk mendapatkan beasiswa, dana ataupun kedudukan sebagai pejabat
publik, adalah ORANG – ORANG BODOH itu
sendiri.
MY JOURNEY : NOW I KNOW AND YOU SHOULD KNOW TOO
By Gregorius Mosed Karhindra, ST
Based
on my experience to the village Taen Terong, sub Riung, Ngada regency, East
Nusa Tenggara province, Republic of Indonesia, in May 2012. See and experience
life directly with villagers who are not served by electricity supply from PLN
(Perusahaan Listrik Negara / State Electricity Company), the supply of clean
water from PDAM (Perusahaan Daerah Air
Minum / Regional Water Company), have paved roads, etc.
In my current journey, I met many people including Mr. Anselmus, a farmer whose minds are opened by God to change his thresher engine that had broken in combination with the dynamo (generator) into a tool to generate electricity, which can turn some lights in the house to illuminate and help the family activities at night despite for a few hours considering the amount of diesel fuel that is as fuel.
After discussing with Mr. Anselmus, I know if Mr. Anselmus had been living in rural and remote areas not served by electricity supply from PLN, away from sources of information to support his activities (internet, manual build power plants, etc.) , far from a store that sells power tools, etc., not a scholar or have experienced a higher education at the University. Mr. Anselmus was just a farmer who daily activities associated with rice fields and cattle, which saw other people who made the tool and then try to make it for his own with his own funds.
With the above explanation, as to tell me, you and everyone, that all men are endowed by God, the potential of the brain that can think and find solutions for problems of life as people with higher education, regardless of formal education. With this reality, let us assume the people who regard the people who live in rural and remote areas are the stupid people who do not know what about a way for the progress of their life, then 'sell' as an excuse to to get a scholarship , money or status as a public official, is THE FOOL PEOPLE itself.
In conclusion, out of school for various reasons is not a major obstacle to the progress of a person. Attitude that continues to diligently study is an important requirement for true progress of a person beside supporting facilities.
Sabtu, 28 April 2012
SOLUSI KECIL MELAWAN KETERTINGGALAN SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)
Oleh Gregorius Mosed Karhindra, ST
Melanjutkan
dari tulisan sebelumnya ‘beasiswa dan dongeng kemajuan masyarakat Nusa Tenggara
Timur (NTT)’ maka perlu dicari solusi yang lebih tepat mengena untuk melawan
ketertinggalan sebagian besar masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) terlebih
yang hidup di pedesaan dan daerah terpencil. Semoga solusi yang akan ditawarkan
penulis pada kesempatan kali ini, bisa membantu mereka, yang berkelimpahan dana
oleh karena berkat Tuhan, yang ingin berbagi kasih dengan sesama yang
membutuhkan, memprioritaskan penerima bantuan yang benar – benar membutuhkan
dan sarana penunjang perkembangan.
Berdasarkan
pengalaman pribadi pribadi penulis selama berkeliling ke sejumlah wilayah di Nusa
Tenggara Timur (NTT) dan pernah hidup bersama masyarakat di daerah Nusa
Tenggara Timur (NTT) yang penuh keterbatasan seperti kekurangan sumber listrik,
sarana kesehatan (seperti obat – obatan, tenaga medis, etc), sumber air bersih
dan lain sebagainya, membaca banyak buku, menjadi guru honorer Teknologi
Informasi dan Komunikasi di Borong kabupaten Manggarai Timur provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT), mendengarkan saran dan keluhan, latar belakang pendidikan
penulis sebagai sarjana Teknik Elektro program studi Teknik Energi Listrik (Power
System Engineering) dan lain sebagainya.
Dalam
kesempatan kali ini, penulis hanya membahas tentang solusi kecil melawan
kekurangan sumber listrik yang murah meriah sebagai bagian dari solusi kecil
melawan ketertinggalan sebagian besar masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT)
terlebih mereka yang tidak terlayani PLN (Perusahaan Listrik Negara) dengan
berbagai alasan tetapi berada pada atau dekat daerah yang mempunyai potensi untuk
membangkitkan tenaga listrik meggunakan teknologi renewable energy. Misalnya
pemukiman penduduk yang berada dekat sungai, pantai, banyak ternak (sapi,
kerbau, etc), atau yang memiliki angin yang kuat (bukan tornado atau puting
beliung).
Lebih
jauh mengenai pentingnya pengadaan sumber listrik? Kita semua makhluk yang
masih sehat pikirannya tahu benar manfaat listrik bagi kehidupan manusia. Dengan
adanya energi listrik, kita dapat mengoperasikan alat – alat elektronika/listrik
sebagai sarana bertukar informasi (baik yang mendidik untuk kebaikan maupun
kejahatan), hiburan, pengobatan, memasak, mencuci pakaian, menyetrika, penerangan
sampai untuk industri baik yang berskala kecil, menengah sampai besar.
Sebagai
prioritas untuk masyarakat pedesaan atau terpencil sudah begitu miskin lagi,
baiklah pembangunan sumber listrik ditujukan untuk penerangan, agar mereka
dapat beraktifitas dengan lebih baik di malam hari termasuk didalamnya adalah
belajar. Hal ini dimengerti oleh penulis waktu penulis ada di sana.
Pendidikan
adalah senjata utama melawan keterbelakangan. Pendapat ini penulis dapat dari
orang – orang yang lebih dahulu hidup dari penulis dan penulis setuju. Untuk
bisa maju dalam bidang pendidikan, siapapun harus belajar. Dalam pengamatan
penulis sewaktu hidup di daerah yang penuh dengan keterbatasan, murid – murid
penulis dulu, biasanya memprioritaskan membantu orang tua yang umumnya petani
atau nelayan misalnya mengangkut kayu bakar, mencuci pakaian di sungai dan lain
sebagainya, saat hari masih terang. Saat malam, barulah dipakai untuk belajar. Bagi
yang tidak ada listrik, biasanya menggunakan lampu minyak.
Apakah
anda yang sekarang belajar ditemani lampu paling minim 11 watt, pernah belajar
ditemani lampu minyak atau setara lampu 5 watt bahkan kurang? Jika jawabannya adalah
ya, apakah anda merasa bahagia? Atau nyaman? Atau bersemangat? Atau merasa
inilah situasi belajar paling ideal dan merasa perlu menyarankan agar orang
lain untuk melakukan hal yang sama? Jika
jawaban anda adalah ya, saya berani berkata bahwa anda sudah kehilangan akal
sehat anda dan layak menyandang gelar ‘BAPA SEGALA DUSTA’…….!!!!!!!!!!!
Bagi
yang akal sehatnya masih ada dan berkelimpahan dana dan ingin berbagi kasih,
gunakan dana anda, untuk membangun bagi mereka yang terpencil, pembangkit
listrik dengan teknologi renewable energy sesuai dengan potensi daerah yang ada
di sekitar mereka sekalipun pembangkit listrik yang dibangun hanya mampu
menyalakan lampu 14 watt per kepala keluarga.
Sebagai
contoh, untuk pemukiman penduduk dekat dengan sungai, dibangun pembangkit
listrik tenaga air. Di daerah dekat pantai yang anginnya kencang, dibangun
pembangkit listrik dengan menggunakan kincir angin yang dapat berputar. Di
daerah yang banyak kotoran ternaknya, dibangun pembangkit listrik dengan metode
biogas, di daerah yang panas yang banyak sinar matahari, dibangun pembangkit
listrik dengan menggunakan sel surya.
Sebagai
masukan bagi mereka yang berkelimpahan dana dan ingin berbagi kasih, penulis
membuat perkiraan yang penulis ketahui dari kesaksian banyak orang termasuk
yang sudah pernah menerima beasiswa tentang besar dana beasiswa. Sampai tahun
2012, besaran dana beasiswa dari pemerintah asing untuk menyekolahkan seorang
dari provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di luar negeri, kalau ditotal sampai
tamat sekolah dan dirupiahkan, kurang lebih Rp. 200 juta, yang mana jika sudah
selesai, orang ini belum tentu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di
daerah terpencil. Dengan besaran dana yang sama, dapat dibangun sebuah
pembangkit listrik dengan teknologi renewable energy bagi masyarakat di daerah
terpencil, yang benar – benar membutuhkan bantuan dan seperti ‘terlupakan’
bahkan oleh pemerintah Republik Indonesia sendiri, sekalipun hanya untuk
menyalakan lampu 14 watt per kepala keluarga sebanyak 10 kepala keluarga.
Dalam
hal ini, penulis tidak mengatakan bahwa pemberian beasiswa adalah salah. Pemberian
beasiswa adalah juga solusi melawan ketertinggalan. Tapi, mengingat pemberian
beasiswa umumnya adalah bagi mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan strata
1 dan memiliki nilai TOEFL/IELTS > 450, artinya pemberian beasiswa dari
pemerintah luar negeri adalah untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang
sudah maju dan ingin lebih maju lagi dalam bidang studi peminatannya. Yang
mana, pemberian beasiswa sudah berlangsung bahkan puluhan tahun dengan tujuan
yang sama pula setiap tahunnya sampai tahun 2012 dan entah sampai kapan lagi, yaitu
‘membangun Nusa Tenggara Timur (NTT)’. Artinya pemberian beasiswa tidak membuat
perubahan yang signifikan bagi mayoritas masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT)
yang terpencil dan tertinggal. Dan mengingat tujuan umum pemberian beasiswa
adalah untuk ‘membangun Nusa Tenggara Timur (NTT)’ maka secara tidak langsung
meligitimasi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai penyandang predikat ‘Nusa Tetap
Tiarap’ atau ‘Nusa Terus Tidur’.
Sedangkan
bagi masyarakat daerah terpencil yang kemiskinan dan keterbelakangannya
‘dijual’ sebagai alasan mendapatkan beasiswa, yang jangankan menyelesaikan
pendidikan strata 1, untuk menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pun belum
tentu bisa, mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk melawan ketertinggalan
daerah leluhurnya adalah demikian berat bahkan sudah menjurus ke arah dongeng.
Apapun,
adalah anugerah yang mengagumkan, bagi mereka yang mendapatkan beasiswa ke luar
negeri ataupun bantuan pembangunan pembangkit listrik. Adalah baik, jika bisa
berjalan keduanya (pemberian beasiswa dan pembangunan pembangkit listrik bagi
masyarakat di daerah terpencil), tapi jika harus diprioritaskan, maka ini
kembali ke si pemilik dana kepada siapa akan diberikan.
Untuk
mereka yang berkelimpahan dana dan ingin berbagi kasih, kalian tahu mereka yang
terpencil dan seolah ‘terlupakan’ itu ada begitu pula sebaliknya. Tapi dengan
tidak tepatnya dalam pemberian bantuan yang bersumber dari dana anda, banyak
yang tahu adalah ‘kebenaran’ bahwa kalian peduli dengan meraka yang terpencil
dan seolah ‘terlupakan’ tapi apakah mereka yang terpencil dan seolah
‘terlupakan’ tahu akan ‘kebenaran’ itu?
Semoga
sedikit masukan dari penulis ini, dapat dibaca oleh mereka yang berkelimpahan
dana dan ingin berbagi kasih, supaya bisa lebih tepat dalam menyalurkan bantuan
dan hal yang paling dibutuhkan bagi mereka yang miskin, terpencil dan
terbelakang dalam provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Langganan:
Postingan (Atom)